KERINCI – Proyek normalisasi sungai yang dikerjakan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau PT WIKA di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh sepanjang tahun 2025 menyisakan kisah panjang penuh polemik.
Sejak awal pelaksanaan, proyek yang digadang-gadang menjadi solusi penanganan banjir dan pengendalian aliran sungai itu terus mendapat sorotan masyarakat. Mulai dari proses pekerjaan di lapangan, kualitas hasil pengerjaan, hingga dugaan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) subsidi untuk operasional alat berat.
Pada saat pekerjaan berlangsung, aktivitas excavator di sejumlah titik normalisasi sungai sempat menjadi perhatian warga. Sejumlah alat berat disebut beroperasi tanpa menggunakan tangki BBM industri sebagaimana standar proyek besar pada umumnya.
Tak hanya itu, pengisian bahan bakar ke alat berat diduga menggunakan jerigen, sehingga memunculkan dugaan kuat penggunaan BBM subsidi untuk kepentingan operasional proyek.
Kondisi tersebut memantik kritik publik karena BBM subsidi sejatinya diperuntukkan bagi masyarakat kecil, nelayan, petani, dan sektor tertentu yang telah diatur pemerintah.
Sorotan terhadap proyek PT WIKA tidak berhenti pada persoalan BBM. Masyarakat juga mempertanyakan kualitas pekerjaan normalisasi sungai yang dilakukan pada sejumlah titik di Kerinci dan Sungai Penuh.
Beberapa warga menilai hasil pekerjaan di lapangan belum memberikan dampak signifikan terhadap penanganan sedimentasi maupun pengurangan risiko banjir di wilayah sekitar aliran sungai.
Bahkan hingga memasuki tahun 2026, publik menilai belum terlihat adanya pemeriksaan fisik secara menyeluruh terhadap hasil pekerjaan proyek yang dilaksanakan selama tahun 2025 tersebut.
Situasi itu memunculkan pertanyaan terkait fungsi pengawasan dari instansi teknis maupun pihak berwenang terhadap proyek bernilai besar yang menggunakan anggaran negara.
“Proyek ini sejak awal memang banyak dipertanyakan masyarakat. Mulai dari pelaksanaan sampai hasil pekerjaannya,” ujar salah seorang warga Kerinci.
Masyarakat berharap pihak terkait melakukan audit terbuka terhadap pekerjaan normalisasi sungai yang telah dikerjakan PT WIKA, termasuk menelusuri dugaan penggunaan BBM subsidi di lapangan.
Transparansi dinilai penting agar tidak menimbulkan spekulasi liar di tengah masyarakat serta memastikan seluruh pekerjaan proyek berjalan sesuai aturan dan ketentuan yang berlaku.
Hingga kini, Sabtu (16/5/2026), pihak PT WIKA belum memberikan penjelasan resmi terkait permasalahan permasalahan yang dihadapi hingga proyek normalisasi sungai di Kerinci dan Sungai Penuh sepanjang tahun 2025 tersebut.









