Explore News – Kabut yang menyelimuti sejumlah wilayah Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh kembali menjadi perhatian masyarakat. Kondisi udara yang terlihat cukup pekat dan menimbulkan pandangan kabur membuat warga mempertanyakan penyebab sebenarnya.
Sebelumnya, kondisi tersebut disebut sebagai kabut yang berkaitan dengan uap air dan kelembapan. Namun, warga di lapangan menilai kondisi yang terlihat kini lebih menyerupai asap, sehingga muncul dugaan adanya campuran asap dari aktivitas pembakaran lahan.
Pertanyaan masyarakat sederhana: apakah kabut tersebut benar-benar hanya fenomena cuaca, atau sudah bercampur dengan asap akibat kebakaran hutan dan lahan?
Keraguan warga semakin menguat karena saat ini Provinsi Jambi memasuki periode musim kemarau, sementara potensi maupun aktivitas karhutla masih menjadi perhatian. Bahkan, dalam prakiraan cuaca BMKG terdapat penggunaan istilah “Kabut/Asap” untuk sejumlah wilayah.
Masyarakat pun meminta pemerintah daerah dan instansi terkait tidak hanya mengandalkan pengamatan visual, tetapi melakukan pemeriksaan kualitas udara serta memastikan sumber kabut secara langsung.
Pasalnya, sejumlah warga mengaku merasakan kondisi udara yang berbeda, termasuk mata terasa perih ketika berkendara. Kondisi tersebut dinilai perlu mendapatkan penjelasan berdasarkan data, bukan sekadar asumsi.
Sementara itu, pihak BMKG melalui Kurnia saat dikonfirmasi Jumat (14/8/2026) menjelaskan bahwa berdasarkan pantauan Stasiun Meteorologi Depati Parbo, jarak pandang saat ini berada di sekitar 6.000 meter, dengan kelembapan udara 59 persen.
Menurutnya, kondisi tersebut masih dikategorikan sebagai haze atau pandangan kabur, dan belum dapat disebut sebagai kabut asap.
“Belum kabut asap, masih campuran uap air, sepertinya ada potensi hujan,” ujar Kurnia.
Namun, ketika dikonfirmasi lebih lanjut mengenai keluhan warga yang mengaku mengalami mata terasa perih saat berkendara, hingga berita ini diturunkan belum ada penjelasan lebih lanjut dari pihak BMKG.
Masyarakat berharap persoalan ini dapat dijelaskan secara terbuka berdasarkan hasil pemantauan kualitas udara dan data lapangan. Jika memang hanya kabut akibat kondisi meteorologis, masyarakat tentu membutuhkan penjelasan yang meyakinkan.
Sebaliknya, jika terdapat kandungan asap akibat pembakaran lahan atau karhutla, masyarakat meminta pemerintah segera mengambil langkah pencegahan dan penanganan.
Jangan sampai warga hanya diminta percaya bahwa itu kabut biasa, sementara kondisi udara di lapangan belum diperiksa secara menyeluruh.








