Explore News – Kerinci tidak hanya soal pemandangan. Ada Gunung Kerinci yang menjulang di ketinggian 3.805 mdpl, ada Danau Kerinci yang tenang, dan ada hamparan kebun teh Kayu Aro yang mendunia.
Namun di balik keindahan alam itu, Kerinci menyimpan kekayaan yang lebih besar: kebudayaan.
Suku Kerinci, penghuni asli lembah ini, telah melahirkan peradaban yang aturannya menyentuh hampir semua sisi hidup. Ada seni, ada adat, dan ada cerita yang dijaga selama ratusan tahun.
*Budaya Ada di Setiap Sisi Kehidupan*
Perjalanan menyapa Suku Kerinci tidak akan lengkap jika hanya berhenti di spot wisata.
Di Kerinci banyak ditemukan menhir peninggalan megalitikum.
Bukan itu saja dari tradisi kenduri sko misalnya setiap desa di kerinci ada Kenduri sko.
Hingga saat ini masih hidup tradisi Kenduri Sko dan sistem Depati.
Di setiap pernikahan, Baju Koto Gadang dan Songket Kerinci dikenakan dengan penuh makna. Di setiap hajatan, alunan Tari tradisi mengiringi rasa syukur.
“Di Kerinci, hidup itu sudah ada pakemnya. Mau bertani ada doanya. Mau membangun rumah ada pantang larangnya. Mau menikah ada adatnya. Itu semua warisan leluhur yang harus kita jaga,” kata Ibrahim Pamong Budaya.
Melihat besarnya potensi budaya tersebut, Pemerintah Kabupaten Kerinci bergerak serius melakukan pelestarian.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kerinci Jamal Penta mengatakan tahun 2026 ada banyak hal yang sudah dilakukan.
Pendataan Kebudayaan yang di kemas dalam Pokok Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD)
“Tim Ahli Warisan Budaya. Target sudah bekerja maksimal, hingga ditetapkan melalui SK Bupati” jelas Kadis.
*Harapan Generasi Muda*
Komitmen ini disambut baik generasi muda. Yang mengaku bangga.
“Dulu anak muda malu pakai baju adat. Sekarang setelah ada penetapan dan sering dipentaskan, mereka justru bangga. Ini identitas kita,” katanya.
Dengan kekayaan alam dan budaya yang saling menguatkan, Kerinci memang pantas disebut *”Negeri Seribu Budaya”*.
Pemkab berharap, di tahun 2026, Kerinci tidak hanya dikenal karena gunung tertingginya, tapi juga karena kuatnya masyarakatnya menjaga warisan.
“Datanglah ke Kerinci. Jangan hanya lihat gunungnya. Duduklah, dengar ceritanya. Di sanalah Anda akan menemukan jiwa Kerinci yang sebenarnya,” tutup
KERINCI NEGERI SERIBU BUDAYA
Kerinci tidak hanya soal pemandangan. Ada Gunung Kerinci yang menjulang di ketinggian 3.805 mdpl, ada Danau Kerinci yang tenang, dan ada hamparan kebun teh Kayu Aro yang mendunia.
Namun di balik keindahan alam itu, Kerinci menyimpan kekayaan yang lebih besar: kebudayaan.
Suku Kerinci, penghuni asli lembah ini, telah melahirkan peradaban yang aturannya menyentuh hampir semua sisi hidup. Ada seni, ada adat, dan ada cerita yang dijaga selama ratusan tahun.
*Budaya Ada di Setiap Sisi Kehidupan*
Perjalanan menyapa Suku Kerinci tidak akan lengkap jika hanya berhenti di spot wisata.
Di Kerinci banyak ditemukan menhir peninggalan megalitikum.
Bukan itu saja dari tradisi kenduri sko misalnya setiap desa di kerinci ada Kenduri sko.
Hingga saat ini masih hidup tradisi Kenduri Sko dan sistem Depati.
Di setiap pernikahan, Baju Koto Gadang dan Songket Kerinci dikenakan dengan penuh makna. Di setiap hajatan, alunan Tari tradisi mengiringi rasa syukur.
“Di Kerinci, hidup itu sudah ada pakemnya. Mau bertani ada doanya. Mau membangun rumah ada pantang larangnya. Mau menikah ada adatnya. Itu semua warisan leluhur yang harus kita jaga,” kata Ibrahim Pamong Budaya.
Melihat besarnya potensi budaya tersebut, Pemerintah Kabupaten Kerinci bergerak serius melakukan pelestarian.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kerinci Jamal Penta mengatakan tahun 2026 ada banyak hal yang sudah dilakukan.
Pendataan Kebudayaan yang di kemas dalam Pokok Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD)
“Tim Ahli Warisan Budaya. Target sudah bekerja maksimal, hingga ditetapkan melalui SK Bupati” jelas Kadis.
*Harapan Generasi Muda*
Komitmen ini disambut baik generasi muda.
“Dulu anak muda malu pakai baju adat. Sekarang setelah ada penetapan dan sering dipentaskan, mereka justru bangga. Ini identitas kita,” katanya.
Dengan kekayaan alam dan budaya yang saling menguatkan, Kerinci memang pantas disebut *”Negeri Seribu Budaya”*.
Pemkab berharap, di tahun 2026, Kerinci tidak hanya dikenal karena gunung tertingginya, tapi juga karena kuatnya masyarakatnya menjaga warisan.
“Datanglah ke Kerinci. Jangan hanya lihat gunungnya. Duduklah, dengar ceritanya. Di sanalah Anda akan menemukan jiwa Kerinci yang sebenarnya,” tutup
Sementara itu, Bupati Kerinci Monadi mengatakan, kebudayaan merupakan identitas dan jati diri masyarakat Kerinci yang harus terus dijaga, dilestarikan, serta diwariskan kepada generasi muda.
“Kerinci bukan hanya memiliki kekayaan alam yang luar biasa, tetapi juga memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam. Adat, tradisi, kesenian, bahasa, sejarah, hingga peninggalan budaya merupakan warisan leluhur yang menjadi identitas masyarakat Kerinci,” ujar Monadi.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat, terutama generasi muda. Pemerintah daerah, kata dia, akan terus mendorong berbagai program pendataan, pelestarian, pembinaan sanggar seni, serta pengembangan kebudayaan agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
“Budaya jangan sampai hanya menjadi cerita masa lalu. Kita ingin anak-anak muda Kerinci mengenal, mencintai dan bangga terhadap budayanya sendiri. Karena kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi,” tegasnya.
Monadi menambahkan, kekayaan budaya Kerinci juga memiliki potensi besar untuk mendukung sektor pariwisata. Wisatawan yang datang ke Kerinci tidak hanya disuguhkan keindahan alam, tetapi juga dapat mengenal adat istiadat, sejarah, kesenian dan tradisi masyarakat.
“Kita ingin Kerinci dikenal bukan hanya karena Gunung Kerinci, Danau Kerinci dan kebun teh Kayu Aro, tetapi juga karena kekayaan budaya dan keramahan masyarakatnya. Alam dan budaya harus berjalan bersama untuk memperkuat pariwisata Kerinci,” pungkasnya.








